The Dis-possessive Parents

Posted by : vINCENtia DETY abrita di 01:56 1 Comments

Semalam, saya melakukan diskusi yang cukup serius dengan Papa.
Satu hal yang sangat saya syukuri dari diskusi itu adalah, bahwa saya memiliki orangtua yang tidak posesif.
Saya jadi teringat salah satu chapter dari puisi Kahlil Gibran tentang anak :

Children Chapter 4

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life's longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer's hand be for gladness;
For even as he loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable.

Terimakasih, Pa & Ma ..
Terimakasih sudah melatihku menghadapi resiko dengan tak pernah membatasi pilihanku
Terimakasih sudah mendukungku dengan semua pilihanku
Terimakasih sudah selalu ada ketika aku jatuh karena resiko dari pilihanku itu
Terimakasih sudah membantuku berdiri kembali
Terimakasih atas semua suntikan nalar dan rasa
Terimakasih…  sudah menjadi Orangtua yang tidak posesif
Aku sayang Papa & Mama, selalu. 

Cheers,
d'abrita


Read More..

#SangBenak | Kartu Tarot dan Secangkir Kopi Tubruk

Posted by : vINCENtia DETY abrita di 06:01 0 Comments
Dua hari yang lalu saya mendapatkan kesempatan "diramal" lewat kartu tarot. 
Jadi, ceritanya sedang ada acara IPO kantor saya dan salah satu entertainment-nya adalah tarot reader
Sebagai kaum galauers yang kebetulan memang sedang menggalau, pertanyaan pertama, klasik, seputar CINTA  .

Kartu Pertama yang keluar ?
Eight Swords. Shackled.
Mengecewakan.
Tapi ternyata memang persis sama menggambarkan situasi saat ini.


Kata Madam Endang, si tarot reader, kartu ini menggambarkan situasi yang terbelenggu, complicated, maju salah, mundur juga salah. Kalau dikartu asli punya dia, di kepala cewek yang terikat itu ada secercah sinar. Artinya, yang paling penting dilakukan dalam situasi seperti ini adalah tidak memutuskan apapun. Tunggu semua emosi mereda. Dan, pikirkan dengan kepala yang jernih.

Berhubung sedang galau, saya kok jadi kepikiran tentang interpretasi kartu pertama saya itu..
Hingga tadi pagi waktu saya ngopi, saya dapat inspirasi dari secangkir kopi tubruk Kapal Api Lampung.

Secangkir kopi tubruk.Minum kopi tubruk itu ada seninya. Tidak bisa langsung glegek kayak minum "kopi menye-menye" (kopi instan sachet tanpa ampas). Seduh dengan air panas mendidih, lalu butiran tumbukan kopi itu akan berpusar di permukaan, cantik banget ! ( ini best part dari sensasi  bikin kopi tubruk versi saya). Kopi tubruk yang baru diseduh tidak bisa langsung diminum, kalau dipaksa, rasanya jelas nggak enak karena butiran serbuk kopinya masih mengambang dan bisa nyangkut di gigi atau malah bikin kita kesedak. Tunggu dulu hingga semua butirannya mengendap di dasar cangkir. Sementara menunggu, nikmati aromanya. Kalau butirannya sudah mengendap, minum dengan cara diseruput, pelan-pelan, nikmati rasa dan aromanya. Ahh.. mantap sekali!

Minum kopi tubruk itu seperti menggambarkan solusi pemecahan masalah yang diinterpretasikan dari kartu tarot saya tadi. Tidak bisa langsung diminum, tidak bisa langsung diputuskan !
Sepertinya saya memang harus mengendapkan "butiran tumbukan" emosi itu sepenuhnya.
Menunggu hingga semua stabil, dari sisi internal saya, dan dari sisi eksternal yang saya hadapi.
Menunggu sambil menikmati prosesnya.
Menikmati aromanya.
Hingga nanti ketika emosi itu sudah mengendap, ketika semua informasi sudah bisa saya serap dan saya pahami dengan baik, baru saya bisa mengambil langkah pelan-pelan, sambil menikmati prosesnya. Bisa saja "sruputan" saya harus terhenti sebentar karena sesuatu, tapi "kopi" saya akan tandas hingga hanya menyisakan residu yang sudah diendapkan tadi.

Saya kok jadi mulai memandang kondisi shackled atau terbelenggu yang sedang saya hadapi saat ini justru peluang untuk menjadi fleksibel. Kalau di mata kuliah Microeconomics of Strategy, ini digambarkan sebagai real options, atau kondisi dimana strategist punya fleksibilitas untuk bisa menunda dan mengubah keputusan berdasarkan situasi yang diperkirakan akan terjadi di masa depan. Kenapa justru saya merasa ini membuat saya menjadi fleksibel ? karena toh saya tidak harus memutuskan apapun saat ini. Karena emosi dan kegalauan yang saya rasakan saat ini tidak bisa dijadikan dasar yang kuat untuk memutuskan apapun Jadi, saya memang punya peluang untuk menunda. Menikmati prosesnya. Dan mengamati perkembangan dari masalah saya. So, I think I will enjoy the process , wish me luck just like that smiley

Regards,
Vincentia D. Abrita



Read More..

#SangBenak : 2 Dunia Dalam Sebuah Semesta

Posted by : vINCENtia DETY abrita di 20:52 0 Comments
Aku dan Kamu,
2 makhluk dari 2 dunia yang berbeda
walau masih 1 dalam sebuah semesta.
Kita beda !

Aku dan Kamu,
1080 hari yang lalu,
Bertemu karena sebuah kebetulan semesta.
Ya, kebetulan !
Kebetulan, sistematika semesta raya ini membawa kita bertumbuk dalam sebuah pusaran waktu.
Kita bertemu, tapi sama saja, kita beda !

Aku dan Kamu,
Larut dalam pesona kimia semesta bernama Cinta.
Hingga tak terasa hari ini tiba,
1080 hari dari pertemuan pertama dan 960 hari sejak kita bicara dalam bahasa yang sama.
Bahasa ter-universal sesemesta raya.
Tapi, apa kita telah menjadi sama ?
Tidak, kita tetap saja beda !

Kini,
di saat makhluk-makhluk semesta lainnya  mulai mempertanyakan tentang bedanya dunia kita,
Percayalah,
Yg ku mau cuma kamu.
© - Silent Memory
Titik.
Itu saja.

Pintaku,
kekuatan semesta ini ikut melebur dalam satu harapku itu.
Kalaupun ternyata akhirnya tidak, mungkin tak apa.
Karena sang semesta raya punya ingin lain untuk kita.
Walau.... ya!
Aku akan jadi luruh tak berbentuk.
Tapi percayalah, rasa ini akan tetap utuh.
Untuk kamu, hanya kamu.
Demi rasa yang sama di dunia yang berbeda dalam sebuah semesta raya.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Read More..

#SangBenak : Sego Goreng (Nasi Goreng) Jancuk

Posted by : vINCENtia DETY abrita di 19:18 0 Comments
Nasi Goreng Jancuk (Sebelum Disentuh)
Nasi Goreng Jancuk ( Setelah Saya dan Pacar sudah benar-benar kekenyangan)

Saya adalah pecandu nasi goreng!
Gejala kecanduan ini sudah terindikasi sejak saya masih berupa janin.. Ya, dulu sang mama memang sering ngidam nasi goreng semasa hamil.. Bahkan, beberapa jam sebelum saya dilahirkan, mama masih sempat minta dibelikan nasi goreng.. Jadi, bisa dibilang, saya bisa sampai ke dunia ini dengan selamat dan utuh, salah satunya karena keberadaan makanan ajaib bernama Nasi Goreng.. Hehehehe....
Tadi malam, saya berkesempatan untuk mencoba Nasi Goreng Jancuk, makanan populer di Surabaya Plaza Hotel. Buat yang tahu arti kata Jancuk, jangan heran dulu, karena memang nama nasi goreng ini adalah Nasi Goreng Jancuk.. Kenapa Jancuk ? Karena porsi dan level kepedasannya sudah mencapai taraf Jancuk! Edan.. Puedes buangettt...

ALKISAH 

Sebetulnya saya sudah lama tahu tentang nasi goreng ini. Dulu sempat pernah baca di Kompas. Tapi sudah lamaaa... Jadi agak-agak lupa detailnya. Semoga yang saya ceritakan ini memang valid ya.. Kalau nggak, ya maaf, berarti saya lupa
Cabe yang sengaja saya singkirkan
Suatu malam, sang koki Surabaya Plaza Hotel, yang kebetulan saya lupa namanya, dikunjungi oleh kawan-kawan lamanya.. Malam semakin larut, dan di tengah keasyikan ngobrol, mereka minta dibuatkan makanan yang spesial.. Yang paling beda. Segera sang koki masuk ke "laboratorium"-nya, dan dengan bahan-bahan yang seadanya terciptalah nasi goreng yang audzubillah pedasnya.. Ketika disajikan dan dirasakan, spontan teman-temannya yang arek suroboyo asli, langsung misuh-misuh saking pedasnya. Dan, jadilah nasi goreng itu diberi judul Nasi Goreng Jancuk
.
Nasi Goreng Jancuk : Good Marketing Strategy

Setelah saya coba, sebetulnya, maaf, rasanya biasa saja sih..
Cuma memang bagi orang yang suka nasi goreng dan suka makanan pedas, pedasnya nasi goreng ini memang bikin ketagihan. Mungkin karena memang pada dasarnya saya bukan orang yang suka makanan yang sangat pedas, jadi, saya agak tidak bisa menikmati.. Karena yang terasa hanya pedasnya cabe rawit saja, bumbu yang lain tidak ada yang menonjol. Isinya pun standar, udang, ayam, telur dadar, dan ratusan potongan kulit cabe rawit warna oranye dan merah.. Bagusnya adalah, si koki telaten sekali mengiris cabe rawit-cabe rawit itu sampai bijinya menyatu dengan seluruh nasi.. Di potongan kulit cabe tidak ada biji yang menempel, jadi walaupun cabenya disisihkan, tetep aja nggak ngefek.. Sama aja puedesssss!!
Keberhasilan produk Nasi Goreng Jancuk , menurut saya, adalah keberhasilan strategi pemasaran bagian restoran Surabaya Plaza Hotel. Mereka betul-betul sudah merancang strategi yang bagus sekali mulai dari pemilihan nama, tag line, promosi, hingga pricing (penetapan harga).
Coba, siapa yang tidak heran kalau pertama kali mendengar namanya ? Nasi Goreng Jancuk! Unik, membuat orang penasaran untuk mencoba.
Dari tag line dan event promosinya, Surabaya Plaza Hotel agaknya memposisikan nasi goreng ini sebagai makanan khas Surabaya. Coba tengok tag line ini :
"Anda belum sampai ke Surabaya jika belum merasakan Nasi Goreng Jancuk", lomba makan Nasi Goreng Jancuk juga dimasukkan ke dalam rangkaian acara HUT Surabaya tahun 2011 ini.
Promosi lebih banyak dilakukan melalui WOM, memanfaatkan pengalaman orang-orang yang amazed karena kepedasannya.. Dan, tentu saja, keunikan namanya.
Our Bill For This Fucking Shit Fried Rice
Surabaya Plaza Hotel juga pintar menetapkan pricing strategy! Seporsi Nasi Goreng Jancuk Ala Carte harganya Rp 85,000,- (porsinya bisa untuk 4-5 orang). 1 pitcher hot/ice tea Ala Carte (kalau dengan kondisi super kepedesan, cuma bisa untuk 3 orang) harganya Rp 125,000,-. Paket Nasi Goreng Jancuk + 1 pitcher hot/ice tea, cuma ± Rp 100,000,- ! Tapi, bayangkan kalau anda datang dengan 5 orang, pasti anda harus tambah 1 pitcher teh lagi.. Yang berarti, anda akan menghabiskan ±Rp 225,000,- hanya untuk nasi goreng dan teh, atau sekitar ±Rp 45,000 per orang. Beruntung saya hanya datang berdua dengan pacar, jadi sisa nasi goreng masih bisa dibungkus dibagi dua , dan teh panas kami masih sisa sekitar 1/4 pitcher.
Ada lagi yang lain, menurut saya dan pacar, pelayan di situ super sabar dan ramah.. Gimana nggak ramah coba, kalau tiap hari di-jancuk-i terus tapi tetap bisa senyum ??
Waiter/Waitress: Selamat malam, mas.. Mau pesan apa ?
Mas : Nasi Goreng, Jancukkk !!
Wauter/Waitress : terimakasih mas :)

EFEK SAMPING

Pagi ini saya terbangun dengan perut mulas setengah mati akibat pedasnya nasi goreng Jancuk ini.. Padahal di meja makan masih ada bagian porsi saya yang harus saya habiskan sendirian hari ini...
Oalah yooooo... Yooooooooo... Sego goreng iki Juancukkkk tenan... !!

Cheers,
Vincentia D. Abrita
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Read More..

#SangBenak | Permisi mbak.. Mau narik tagihan cappuccino -nya..

Posted by : vINCENtia DETY abrita di 11:05 3 Comments
Perjalanan ke Surabaya.

Hari ini, Minggu, 12 Juni 2011.
Karena ada beberapa urusan yang mendesak, saya harus pulang ke Surabaya. Beruntung, saya bisa langsung mendapatkan tiket kereta Argo Anggrek malam setelah 2 hari sebelumnya gagal terus menghubungi 021-121 (call centre kereta api) .
Jam 21:00 kereta datang, tapi saat jadwal keberangkatan tiba 30 menit kemudian, kereta tak kunjung bergerak karena rupanya penumpang di seat depan saya bermasalah dengan tiketnya, jadi mereka sudah beli tiket untuk gerbong 3 seat 13 A, 13 B, 13 C, dan 13 D dan ternyata, seat 13 C dan 13 D tidak pernah ada di gerbong kami. Ini membuat jadwal keberangkatan terpaksa terlambat setengah jam, pukul 22:00 kami baru mulai meninggalkan stasiun Gambir.
Sekitar 15 menit kereta berjalan, sepasang pramugari dan pramugara muncul dan membagikan cappuccino dalam decorative paper cup ke semua penumpang. Mereka hanya bilang begini, "permisi ibu/bapak/mbak/mas, silahkan minuman panasnya" tanpa memandang muka, langsung menyodorkan paper cup itu ke semua penumpang. Seorang penumpang di deretan belakang saya sempat menolak, dan jawaban sang pramugari, "ini dapet!".
Pikir saya, wah.. PJKA ada peningkatan layanan nih. Sempat saya puji dalam hati. Tapi cappuccino itu tak kunjung saya minum karena sebetulnya, sebelum berangkat saya sudah sempat ngopi.
1,5 jam kemudian, seorang pramugari lain yang bertubuh kecil muncul. Dengan genggesnya nepuk-nepuk membangunkan penumpang yang memang kondisinya sudah banyak yg terlelap.
"Permisi.. Mau narik tagihan cappuccino nya"
Penumpang-penumpang yang ditagih jelas kaget. Apalagi yang sudah terlanjur minum. Ada yang sampai ngamuk-ngamuk tapi akhirnya bayar karena sudah terlanjur minum. Kalau saya sih gampang, jawaban saya cuma begini :
" Cappuccino itu masih utuh. Saya tidak pernah minta atau pesan cappuccino. Dan saya tidak akan pernah mau bayar untuk sesuatu yang tidak saya konsumsi dan tidak saya minta !! "

Pengamatan Saya

Kebetulan ketika adegan si mbak penagih cappuccino itu terjadi, saya masih setengah terjaga. Ada beberapa hal yang saya amati :
1. Mbak penagih cappuccino itu nagih ke orang-orang yang sudah tidur. Orang di sebelah saya sudah tidur sampai mangap2 mulutnya dan mbak itu pilih berusaha membangunkan dia tapi justru saya yang masih melek nggak ditagih duluan. Pertanyaan saya : Kenapa kok saya nggak ditagih dulu ? Kan dia bisa dapat uang dari saya dulu karena saya masih melek (dengan catatan, saya mau bayar).
2. Kalau ada orang yang nggak mau bayar, dia akan otomatis ngomong, "Baik! Nanti saya akan datang untuk menagih lagi" terus ngeloyor ke penumpang berikutnya. Pertanyaan saya : Ini orang atau robot ya ? She was very ignorance..
Setelah kejadian itu saya sempat terlelap setengah jam'an, dan waktu saya bangun, 2 paper cup cappuccino itu sudah tidak ada di meja saya.
Mungkin udah diambil kali yak.. Hihihihihi.

Kesimpulan saya. 

1. Mungkin, memang PT. KAI sengaja men-training pramugarinya untuk memanfaatkan kondisi penumpang yg sudah terlelap supaya mau bayar. Orang yang sudah tidur biasanya kalau dibangunkan akan ogah-ogahan, dan cenderung akan 'menghilangkan' yg mengganggu tidurnya. Contoh, kalau saya baru tidur jam 2 pagi dan weker otomatis bunyi di jam 5, pasti secara naluriah saya akan mematikan weker itu dan balik tidur lagi. Atau, kalau yang berisik adalah adik saya pasti saya akan otomatis teriak minta dia diam dan kemudian balik tidur lagi. Dalam kasus ini, orang akan tetap ngomel, tapi toh, mereka juga posisi sudah ngantuk berat, jadi ya udah lah.. Kasih uang aja daripada tidur keganggu.
2. Mungkin, pramugari dan pramugara kereta api dilatih untuk mengatasi masalah dengan menganggap tidak ada masalah. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, konsumen yang harus ikut peraturan perusahaan. 

Bukan soal Cappuccino 20ribu rupiah

Sungguh, semua yang saya utarakan ini bukan semata-mata karena hot cappuccino seharga Rp 20.000,- yang disajikan dalam decorative paper cup. Ini soal service perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan yang dimotori oleh pemerintah.
PT. Kereta Api Indonesia, adalah perusahaan jasa murni. Kesuksesan dan keberlangsungan hidup perusahaan ini bergantung pada apakah konsumen puas atau tidak atas jasanya. Apakah konsumen mendapatkan added values dari jasanya ? Mungkin, tidak semua keinginan konsumen terpenuhi, tapi setidaknya ada added values yang mereka nikmati. Contoh, untuk kalangan masyarakat bawah diberi alternatif kereta ekonomi, dengan kereta ekonomi mereka bisa mencapai tempat tujuannya dengan harga yang sangat murah walaupun memang fasilitasnya jauh di bawah standar. Harga yang murah ini adalah added value untuk mereka.
Nah, untuk kereta eksekutif, tentu penumpang berekspektasi lebih. Mulai dari kemudahan pembelian tiket, kenyamanan interior, hingga pada pelayanan saat perjalanan. Dari segi kenyamanan interior, sudah oke. Dari segi kecepatan perjalanan, kalau lancar sih relatif oke lah. Kalau sampai ada pramugari yang bagi2 cappuccino, tanpa keterangan sedikitpun, tentu, penumpang eksekutif akan menganggap itu hal yang wajar. Fyi, tiket argo bromo anggrek ke surabaya adalah Rp 350.000,- . Hampir sama dengan tiket Citilink atau Lion kalau kita sudah pesan jauh-jauh hari.
Adalah sebuah kecurangan manajemen kereta api kalau sampai kesimpulan saya memang benar. Bagaimanapun juga, konsumen punya hak untuk memilih. Kalau memang Cappuccino atau apapun barang dagangan manajemen kereta api itu tidak termasuk dalam service yang dibebankan ke tiket, tolong dibicarakan dari awal. Jangan main sodor tanpa ada keterangan apapun.
Semoga tulisan ini dibaca oleh salah satu manajemen kereta api supaya bisa dijadikan masukan untuk peningkatan kualitas kereta api. Saya sendiri termasuk penikmat Agro Bromo Anggrek, dan saya tidak mau kereta kesayangan saya ini jadi nge-bete-in gara-gara miss management. Sekian.


Regards,
d'abrita.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Read More..

#SangBenak | Jancuk : Sebuah Kata dalam Budaya Surabaya

Posted by : vINCENtia DETY abrita di 11:01 1 Comments
Maaf sebelumnya kalau postingan saya kali ini terkesan vulgar dan banyak kata-kata yang harus disensor. Tanggal 31 Mei yang akan datang, kota kelahiran saya, SURABAYA, akan merayakan ulang tahunnya yang ke 718!! Apa yangkhas dari Surabaya ? banyak!! Salah satunya adalah makian khas Surabaya, apalagi kalau bukan JANCUK! Tengok saja salah satu desain kaos Cak-Cuk ini.
Desain Kaos Cak-Cuk

"Cuk!"
"Jancuk!"
"Juannnccuukkkkkk!!"
"djancukkk!

Kalau anda seorang new comer di Surabaya, wajar kalau anda terkaget-kaget mendengar kata ini sering kali dilontarkan oleh arek-arek Suroboyo.   Mungkin anda heran, kenapa ya orang yang melontarkan kata ini justru ekspresi mukanya sumringah ? Bukannya Jancuk itu kata makian ya ? Atau mungkin anda malah tersulut emosinya karena merasa dimaki ?? 
Eits! Jangan keburu ngamuk dulu, bung!
Itulah Surabaya!!
Kalau mau kerasan di Surabaya, belajarlah menerima kata legendaris itu, bahkan saya sarankan, belajarlah menggunakannya! Tapi, hati-hati menggunakannya, coba baca tulisan saya dulu kalau mau misuh Jancuk di Surabaya.


Jancuk! : arti
Dalam pengucapannya, arek Suroboyo punya beberapa versi Jancuk, salah satunya adalah versi singkat, yaitu "Cuk!". Berdasarkan beberapa sumber, ""Cuk!" inilah yang merupakan suku kata asal dari "Jancuk!". "Cuk!"" berasal dari kata encuk yang artinya adalah kemaluan perempuan. Sebetulnya, kata ini hampir sama dengan makian populer ala western, "FUCK!", yang punya arti identik dengan persenggamaan/persetubuhan. Itulah sebabnya, bagi sebagian besar orang kata ini sangat ditabukan, dianggap vulgar, dan hanya pantas diucapkan oleh orang-orang tidak berpendidikan atau kelas bawah. Saya sendiri waktu kelas 5 SD pernah ditampar oleh sang Mama karena iseng mempraktekkan makian ini ke si adik, kata mama, omongan kaya' gitu cuma pantas diomongin sama orang-orang di terminal. Kebetulan, mama memang asli Jawa Tengah, jadi sekarang saya bisa memahami kenapa beliau berpendapat seperti itu (sampai sekarang).

Jancuk! : Vulgar kah ?
Saya mendapatkan referensi yang sangat bagus untuk menjelaskan part ini. Buku "Embarrassment-Free Dictionary" karya Djoko D. Muktiono sangat pas untuk dijadikan bahan utama, karena buku ini kurang lebih membahas tentang arti dan penggunaan makian-makian dalam bahasa Inggris.  
Apa arti kata vulgar ? 
The American Heritage Dictionary of The English Language mendefinisikan kata vulgar sebagai :
  1. Secara kasar, cabul, dan tak senonoh
  2. a) kurang berperasaan, kurang berbudi halus. b) ditandai dengan kurangnya pendidikan yang baik; tak tahu adat. c) ekspresi diri yang kasar ; belagu. 
  3. Diucapkan atau diekspresikan dalam bahasa yang dipakai oran kebanyakan
  4. Tentang atau berkaitan dengan masyarakat kebanyakan; umum.
Sedangkan, menurut The Oxford Companion to the English Language, kata vulgar berasal dari bahasa latin vulgaris, yang artinya úmum' , atau dari vulgus yang artinya 'masyarakat umum'. Vulgar itu adalah istilah non teknis yang berubah dari makna netral dan umum menjadi makna yang merendahkan atau derogatori. Menyumpah tentu termasuk kata vulgar. Ketika menyumpah, kita menggunakan swearword, yang adalah istilah non teknis untuk sebuah kata atau frasa yang cabul, menghina, dan secara sosial menyakitkan. Swearword biasanya dikaitkan dengan alat kelamin/aktivitas seksual, agama, atau gabungan dari kedua elemen itu. 
Jadi, gimana dengan "Jancuk!" ?
Jancuk, berdasarkan artinya, termasuk swearword, yang berarti juga adalah kata vulgar. Apa yang membuat "Jancuk!" itu vulgar atau tidak adalah konvensi sosial. Ada semacam kesepakatan sosial  yang menganggap kata ini vulgar. Kesepakatan sosial inilah yang membuat kata "vagina" dianggap "bersih" sedangkan kata "encuk" (yang kemudian ber-evolusi menjadi "Jancuk") dianggap "kotor". Jadi, gunakan kata ini dengan hati-hati, kalau dikalangan arek boleh lah,, tapi kalau lawan bicara kita bukan arek harus betul-betul diatur..
untuk arek-arek suroboyo : cangkem-mu ojo asal njeplak ae, jeh! nek podho2 arek suroboyo, wis sakarapmu ape jancuk-jancuk'an nganti mblentrek..lek dudu'.. iso malih dadi jotos-jotosan koen engkok!
Jancuk! : Budaya Surabaya
Bagi orang daerah lain, bahkan bagi orang Malang yang masih saudara, Orang Surabaya terkesan kasar dalam tutur kata dan tingkah laku. Kenapa ? salah satunya karena kegemaran misuh atau menyumpah itu tadi. Tapi, bukan berarti orang Surabaya itu tidak berpendidikan ya.. coba lihat Pak Muhammad Nuh, menteri pendidikan kita saat ini, arek suroboyo iku rek !! Saya yakin, kalau beliau sedang bernostalgia dengan teman-teman masa mudanya yang sesama arek suroboyo pastiiiiii.... "Jancuk!"-nya nggak ketinggalan..  
"Jancuk!" itu sudah seperti budaya dan identitas bagi arek Suroboyo. Penggunaannya bisa macam-macam, tapi saya sarankan jangan pernah digunakan dalam situasi berikut :
  • Situasi formal. Entah anda addicted menggunakan kata "Jancuk!" atau tidak, tolong hindarilah gunakan kata itu dalam situasi formal seperti meeting, pesta formal, kuliah, atau sedang dalam sebuah negosiasi bisnis. Bagaimanapun juga, banyak orang menganggap kata itu tidak pantas, dalam sebuah situasi yang formal tentunya orang lain ingin dihormati dengan layak oleh anda.
  • Diucapkan ke orang yang lebih tua. Orang tua tentu pada dasarnya ingin dihormati oleh yang lebih muda. Teman saya pernah mendapat masalah karena melontarkan kata "Jancuk!" ke seorang guru dan kemudian tidak naik kelas. Karena itu, kecuali orang itu memang betul-betul arek suroboyo sejati dan sangat easy going, disarankan untuk tidak menggunakan kata "Jancuk!" atau pisuhan khas suroboyo yang lainnya.
  • Dalam sebuah forum atau kegiatan yang melibatkan orang dari luar Surabaya. Ingat, beda tanah kelahiran, beda budaya. Jangan disama-ratakan. Hormatilah orang lain seperti anda ingin dihormati, dan belajarlah menghormati orang lain dengan tidak menyama-ratakan budaya mereka dengan budaya yang selama ini kita anut. Jujur, saya tidak setuju dengan cara senior kampus yang melontarkan kata-kata itu ke mahasiswa baru saat kegiatan ospek, karena di situ pasti ada anak-anak dari daerah lain, yang tidak tahu menahu soal arti kata "Jancuk!" itu. Nanti, kalau sudah agak dekat.. boleh lah diajari misuh, tapi kalau baru kenal jangan dong.. kasihan kalau salah aplikasi malah dijotos orang. 
  • Dilontarkan ke perempuan. Kalau ada seorang gentleman, jangan pernah sekali-kali melontarkan kata-kata ini ke seorang perempuan. Anda bisa di cap sebagai begundal yang tak tahu cara menghargai perempuan, kalau pun perempuan itu adalah teman dekat anda, sebisa mungkin dicegah jangan sampai mengeluarkan kata ini kepadanya. 
Lalu, kapan "Jancuk!" itu bisa diaplikasikan ?
  •  Memberi komentar. Ada 2 jenis komentar :
    • Komentar negatif. "Juancukkk!!! suporter'e malaysia iki koyok entut kok ancene" (Suporter Malaysia ini memang sialan)
    • Komentar positif.  "Jancuk! awakmu saiki dadi wong yes ngene iki rek!" (kamu sekarang jadi orang hebat nih!)
      Perhatikan 2 kalimat komentar di atas, kebayang kan situasinya seperti apa ? Kalimat komentar negatif seperti di atas pasti dilontarkan saat sedang nonton pertandingan final Indonesia-Malaysia, bisa jadi dalam situasi nobar bersama teman-teman sepergaulan. Sedangkan, kalimat kedua merupakan kalimat yang dilontarkan kepada teman lama (bisa jadi teman dekat). 
  • Sapaan persahabatan. "Cuk! Jik urip ae koen.. tak pikir wis matek! Nang ndi ae koen ga tau kethok ?" (Where have you been, dude ? long time no see! ) . Sapaan seperti ini, kalau dilontarkan pada teman dekat, bisa mencairkan suasana dan artinya sangat jauh dari unsur permusuhan.
  • Penekanan argumen/kalimat . "Cuk! temenan luwe aku iki rek.. ayo ndang budhal nang wapo!!" (Aku beneran lapar nih! ayo buruan ke WaPo -WaPo nama tempat tongkrongan di dekat UNAIR kampus B surabaya-)
  • Makian. Arek Suroboyo punya seni sendiri untuk memaki. Caranya, suku kata "Jan" diucapkan singkat, dan suku kata "cuk!" dibuat panjang... "Jancuuuuuuuukkkkkkkkkkkk!!" dan biasanya diikuti dengan kata makian lain, seperti nggateli, asu, dll. Memaki bisa jadi karena marah atau kesakitan. Biasanya spontan diucapkan.
Begitulah kira-kira tentang grammar khas suroboyo ini.. don't judge Arek Suroboyo by the swearwords but please look into their personalities, and u'll find that u might be the fan of Jancukers!
Saya punya kartun-kartun buatan arek suroboyo, si Ikin,  yang sarat akan kata Jancuk, silahkan dinikmati dan tolong dipelajari aplikasi katanya. 
Salam Jancuk!
santai jeh.. aku nang mburimu !!

Suro dan Boyo 1

Lontong Balap

Suro (wis sugih) dan Boyo

Boyo Kere Tapi Mbois
Read More..

#SangBenak : Satu. Dua.

Posted by : vINCENtia DETY abrita di 10:05 0 Comments
Aku,
Kamu,
Kita.

Satu,
Dua.

Eka,
Bhineka.

Dua yang menyatu.
Satu yang tak akan terduakan.
Eka dalam ke-bhineka-an.
Bhineka yang manunggal.

Aku,
Kamu,
Kita.

Berbeda untuk menjadi sama.
Berdebat untuk sependapat.
Memberi untuk mampu menerima,
Menerima untuk dapat memberi lebih banyak..
Mempertanyakan untuk mengerti,
Merendahkan hati untuk meninggikan asa,
memaksimalkan sabar untuk meminimalkan tikai. 

Dalam relung, dengan cinta.
Tak senasib tapi sepenanggungan
Untuk damai yang diharapkan,
Selalu, selamanya.

D'abrita
03/0/2011
untuk Indonesia dan kita, ingat :
"Masalah itu tidak timbul karena adanya sebuah perbedaan. Justru, masalah itu berakar pada perbedaan respon dan arogansi dalam menyikapi sebuah perbedaan" quoted from my mind . :)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Read More..